Tak Hanya Belajar di Kelas, Yulius Tata Handika Asah Kemampuan PR Lewat Kompetisi Nasional

Awal Ketertarikan pada Kompetisi PR

“Masa anak PR tidak pernah menang lomba PR?” Kalimat sederhana tersebut menjadi awal perjalanan Yulius Tata Handika dalam mengikuti berbagai kompetisi public relations selama masa perkuliahan. Bersama rekan satu timnya di berbagai kompetisi, Yulius Tata Handika, mahasiswa  Humas Fikom Unpad, konsisten mengikuti kompetisi public relations dan berhasil meraih Juara 1 Public Relations Competition Komunikasi Fiesta 2026 serta Juara 1 OlymPRDay Padjadjaran Public Relations Fair (PPRF) 2026. 

Pada Public Relations Competition Komunikasi Fiesta 2026, Tata tergabung dalam satu tim bersama Rayya Fayza dan Gea Aulia. Sementara pada OlymPRDay PPRF 2026, ia berkompetisi bersama Gea Aulia dan Lita Febrianti Erawan. Berbagai prestasi tersebut merupakan hasil kolaborasi dan kontribusi seluruh anggota tim dalam setiap tahapan kompetisi.

Sebelum meraih berbagai prestasi tersebut, Tata Handika mengaku lebih sering mengikuti lomba di bidang podcast. Namun, setelah memasuki dunia perkuliahan dan mempelajari public relations lebih dalam, ia mulai tertarik untuk mencoba kompetisi yang sesuai dengan bidang studinya.

Menurut Tata, kompetisi public relations sangat menarik karena peserta tidak hanya dituntut memahami isu sosial, tetapi juga menyusun strategi komunikasi yang tepat berdasarkan data. 

“Pemilihan isu yang diangkat dalam PR campaign juga merupakan isu sosial yang membuat kita sebagai anak muda harus lebih concern. Selain itu, saya juga mendapat banyak wawasan dan jadi lebih memahami hal-hal yang berbasis data, bukan hanya asumsi semata,” ujarnya.

Proses Persiapan dalam Kompetisi Public Relations

Selama mengikuti berbagai kompetisi public relations, khususnya PR campaign, Tata menjalani proses persiapan yang cukup panjang bersama rekan satu timnya. Mereka biasanya memulai dengan meriset masalah yang akan dibahas sebelum menyusun strategi komunikasi yang sesuai dengan isu yang diangkat. Pada tahap berikutnya mereka mempresentasikan campaign tersebut bersama tim. 

Yulius Tata Handika bersama rekan satu timnya saat mengikuti kompetisi public relations pada Komunikasi Fiesta 2026.

Seiring bertambahnya pengalaman, Tata mengembangkan cara yang lebih efektif untuk mempersiapkan kompetisi. Jika sebelumnya ia lebih sering menentukan isu terlebih dahulu lalu mencari data pendukung, kini ia memilih untuk memulai dari melihat fenomena nyata yang benar-benar terjadi di masyarakat.

“Kalau dulu, saya biasanya menentukan isu terlebih dahulu, baru mencari data yang mendukung isu tersebut. Namun, hal itu sering membuat bingung karena datanya tidak ada. Sekarang, setelah lebih berkembang, saya memahami bahwa saya perlu melihat masalah nyata terlebih dahulu, lalu menyusun campaign yang sesuai,” jelasnya.

Tantangan dan Strategi dalam PR Campaign

Tata sering menghadapi tantangan pribadi selama kompetisi. Sifat perfeksionis membuatnya sering meragukan hasil kerja sendiri. Padahal, ia sudah menyusun proposal yang sangat layak.   

Menurutnya, rasa perfeksionis tersebut sempat membuat proses pengerjaan terhambat karena terlalu lama memikirkan satu bagian tertentu. Untuk mengatasinya, Tata memilih untuk beristirahat sejenak ketika merasa stuck sebelum kembali mengevaluasi pekerjaannya. 

Selain proses persiapan, strategi juga menjadi hal penting dalam mengikuti kompetisi public relations. Tata mengatakan bahwa pemilihan micro issue menjadi salah satu faktor yang berpengaruh dalam penyusunan PR campaign. Menurutnya, memilih isu yang lebih spesifik dapat membedakan campaign miliknya dari peserta lain.

“Dalam PR campaign, pemilihan micro issue menjadi hal yang krusial karena di beberapa lomba yang saya ikuti, saya menjadi satu-satunya tim yang mengambil micro issue tersebut,” katanya.

Bagi Tata, perasaan pertama yang muncul saat berhasil meraih kemenangan bukanlah rasa bahagia, melainkan rasa lega setelah melalui proses yang panjang dan tidak mudah.

“Walaupun sudah beberapa kali mengikuti lomba PR campaign, semuanya tetap tidak pernah terasa mudah. Jadi, saat berhasil meraih kemenangan, saya pertama kali merasa lega, lalu setelah itu saya merasa bahagia,” ungkapnya.  

Yulius Tata Handika bersama rekan satu timnya saat mengikuti OlymPRDay Padjadjaran Public Relations Fair (PPRF 2026)

Lebih dari sekadar kemenangan, pengalaman mengikuti kompetisi public relations memberikan pengaruh terhadap perkembangan dirinya. Tata merasa kemampuan analytical thinking dan cara berpikir strategisnya semakin berkembang setelah mengikuti berbagai kompetisi public relations

Melalui berbagai pengalaman tersebut, Tata berharap mahasiswa lain tidak takut untuk mencoba mengikuti kompetisi sejak awal perkuliahan. Menurutnya, proses membentuk pola pikir, kreativitas, serta kemampuan dalam menghadapi tantangan akan terbentuk dengan sendirinya. 

PR campaign memang terasa sulit. Namun, semakin sering berlatih dan mengikuti banyak lomba, pola pikir, cara kerja, dan kreativitas akan terbentuk dengan sendirinya,” tutupnya. 

Anasthasya Putri Setiabudi

[email protected]

Share this: