Tiga mahasiswa Prodi Hubungan Masyarakat Universitas Padjadjaran angkatan 2025 berhasil meraih Juara 2 dalam Radio Announcer Competition (RAC) Comminfest 2026. Kompetisi tersebut merupakan bagian dari Communication Interest Festival (Comminfest) yang diselenggarakan oleh Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada 23 Mei 2026. Prestasi membanggakan ini diraih oleh Joyce Christina Fuyono, Fabia Salsabiel, dan Devira Aulia yang tergabung dalam Tim Infora.
Communication Interest Festival (Comminfest) 2026 merupakan kompetisi nasional yang diikuti berbagai universitas di Indonesia sebagai wadah pengembangan kemampuan komunikasi mahasiswa. Salah satu cabang lomba yang paling menantang dalam ajang ini adalah Radio Announcer Competition (RAC). Pada cabang lomba ini, peserta tidak hanya diuji dari segi teknik vokal, tetapi juga kemampuan dalam mengolah isu dan menyajikannya.
Topik Siaran dan Kreativitas Penyampaian
Cabang lomba RAC 2026 mengusung tema besar “Voice to Impact: Anchoring Freedom of Speech, Ethics, and Transparency in Public Communication”. Tema tersebut menjadi dasar bagi peserta untuk mengembangkan konsep siaran yang memiliki pesan yang kuat dan bertanggung jawab.
Pada babak penyisihan, mereka menghadirkan call to action “SUARA” (Susun Informasi, Analisis Kebenaran, dan Rangkai Aspirasi Beretika). Sementara itu, pada babak final, mereka mengusung konsep podcast dengan format “pengakuan dosa” dan sesi pembacaan tweet dari media sosial.
“Makanya harus dimulai dari kita, jadi bijaklah dalam berkata.” menjadi salah satu dialog dalam podcast mereka. Kalimat ini berhasil mencuri perhatian dewan juri karena Tim Infora menyampaikannya secara sederhana namun langsung mengena.
Mengubah Tantangan Menjadi Kemenangan

Di balik pencapaian tersebut, ketiganya mengakui bahwa mereka memulai dari nol tanpa latar belakang radio maupun pengalaman broadcasting. Kondisi ini sempat membuat mereka kebingungan harus memulai dari mana untuk membuat karya yang dapat bersaing dalam berkompetisi. Mereka merasakan tantangan semakin berat ketika harus mengangkat isu komunikasi yang cukup sensitif, terutama terkait politik, etika, dan kebebasan berpendapat.
Namun, keterbatasan itu justru mendorong mereka untuk saling mengandalkan dalam tim. Mereka juga memanfaatkan ilmu dari mata kuliah di Prodi Hubungan Masyarakat untuk mengembangkan karya. Proses tersebut berhasil mengubah ide-ide yang mereka miliki menjadi konsep yang lebih matang dan kompetitif.
“Kami ingin membuktikan bahwa keterbatasan pengalaman bukanlah penghalang, melainkan menjadi jalan menemukan terang,” ujar Fabia, salah satu anggota Tim Infora.
Momen Mengharukan yang Tak Terlupakan
Momen pengumuman pemenang pada malam awarding night menjadi pengalaman paling berkesan bagi Tim Infora. Mereka sempat pasrah dan tidak menaruh harapan besar untuk memenangkan kompetisi tersebut. Namun, suasana berubah ketika nama Tim Infora dipanggil sebagai pemenang ke-2, ada haru yang dirasakan oleh ketiganya.
Pesan Inspiratif dari Tim Infora
Merefleksikan momen tersebut, Devira menyebut kompetisi ini sebagai titik balik perjalanan mereka sebagai mahasiswa karena berani mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman. Pengalaman ini mengajarkan mereka pentingnya proses diskusi dan evaluasi dalam mengembangkan kemampuan, terutama dalam menyusun pesan publik.
Mereka berharap pengalaman ini dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus mencoba berbagai kesempatan selama masa perkuliahan. Sebab, setiap perlombaan bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang pembelajaran.
Joyce Christina Fuyono