Unpad Awards adalah acara tahunan yang dinaungi oleh Departemen Hubungan Internal BEM KEMA UNPAD. Event ini hadir sebagai bentuk apresiasi bagi mahasiswa yang telah mengharumkan nama kampus di berbagai bidang. Mulai dari akademik, olahraga, hingga seni. Salah satu penghargaan bergengsi yang ada di dalamnya adalah Mahasiswa Berprestasi di Bidang Seni, sebuah gelar yang diberikan kepada mahasiswa yang dinilai telah memberikan kontribusi nyata dan konsisten lewat karya seninya. Pada Unpad Awards 2025, gelar tersebut jatuh ke tangan Gede Mas Bramantya Adagio, mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat Fikom Unpad.
Bukan Hasil Semalam
Perjalanan Adagio menuju penghargaan ini bukan sesuatu yang instan. Ia sudah membangun portofolio sejak lama lewat dunia animasi dan perfilman. Beberapa pencapaiannya antara lain:
- Best Invect of Animation & Best Storytelling — Tebas 2025 (Komunitas Multimedia AMIKOM)
- Best Poster Film & Best Animated Film — ISMA 2025
- Tunas Muda Award — JOFAFEST 2025
- Film Animasi Terbaik — Lawet Muda Film Festival 2023
Tapi dibalik deretan prestasi itu, ada perjuangan yang tidak kelihatan dari luar. Saat masuk SMK jurusan Animasi, Adagio yang tadinya dikenal sebagai “anak paling seni” di SMP-nya tiba-tiba dikelilingi teman-teman dengan skill yang setara bahkan lebih. Situasi itu memicu impostor syndrome, perasaan tidak pantas atas pencapaian yang sudah diraih.
“Berusaha melepaskan rasa insecure itu adalah perjuangan yang paling berat,”
Potret Adagio dan timnya memenangkan Film Animasi Terbaik pada Lawet Muda Film Festival 2023
Menghadapi Tantangan dan Impostor Syndrome
Meskipun memiliki portofolio yang mengesankan, Adagio mengaku sangat terkejut dengan pencapaian terbarunya di kampus. “Secara jujur aku tidak sangka akan memenangkan gelar Mahasiswa Berprestasi di Bidang Seni pada Unpad Awards 2025. Saat namaku disebut, aku benar-benar kaget dan hanya bisa tersenyum,” ungkapnya
Namun, di balik karya visual yang memukau, Adagio memendam perjuangan internal cukup berat. Ia mengaku bahwa rintangan terbesarnya adalah self-doubt atau keraguan diri. Pergulatan emosi ini sebenarnya berawal saat ia memasuki bangku SMK jurusan Animasi.
“Dulu saat SMP, aku satu-satunya anak yang bisa menggambar dan banyak yang mengenal aku sebagai pelajar ‘ter-seni’. Namun, saat masuk SMK, aku dikelilingi teman-teman yang skill-nya sama atau bahkan secara objektif lebih baik dariku,” jelas Adagio. Situasi culture shock ini memicu munculnya impostor syndrome, sebuah kondisi psikologis di mana seseorang merasa tidak pantas atas kesuksesannya sendiri. Baginya, berusaha melepaskan rasa insecure tersebut adalah perjuangan yang paling berat.
Tips dari Adagio untuk Kamu
Buat kamu yang masih ragu untuk terjun ke jalur seni, Adagio punya satu pesan sederhana tapi berdampak
“Just go for it. Ambil apa saja fasilitas yang sudah tersedia di depanmu, mau itu sekadar pulpen dan kertas, lalu gunakan untuk mengembangkan skill-mu.”
Keenan Raditya Perdana Kusuma