Dari “Lupa Password” Menjadi Juara: Cerita Tiga Mahasiswa Humas Menaklukkan Pekan Komunikasi Universitas Indonesia

Tiga mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat berhasil meraih juara dalam lomba Digital Social Movement Campaign pada Pekan Komunikasi Universitas Indonesia. Tim yang bernama Lupa Password tersebut menarik perhatian juri melalui konsep kampanye yang kuat, kreativitas dalam penyampaian pesan, serta presentasi yang tampil berbeda dibandingkan peserta lainnya.

Salah satu anggota tim, Disya, menceritakan bahwa semuanya bermula dari keinginannya untuk mencoba mengikuti lomba sejak semester awal kuliah. Namun, karena kompetisi tersebut mengharuskan peserta berbentuk tim, ia sempat kebingungan mencari rekan yang bisa diajak bekerja sama.

“Awalnya aku dapat info lomba dari grup Humas Angkatan 2025. Dari situ aku langsung tertarik karena memang dari awal pengen coba ikut lomba sejak masih semester satu. Tapi karena lombanya harus tim, aku sempat bingung mau ngajak siapa. Kebetulan yang share info itu Lintang, jadi aku coba hubungi dia secara pribadi. Setelah ngobrol, akhirnya kami sepakat ngajak Joyce dan Diva juga. Dari situlah tim Lupa Password terbentuk,” ujarnya sambil tertawa mengenang nama tim mereka.

Proses Persiapan Kampanye Menuju Hari Presentasi

Dalam proses persiapan lomba, tim Lupa Password memulai dengan mendiskusikan isu yang akan diangkat, yaitu fenomena doxing di kalangan perempuan Generasi Z di Jawa Barat, sebagai bentuk kekerasan digital yang semakin marak terjadi di ruang siber. Setiap anggota mengambil peran masing-masing sehingga tim dapat menyelesaikan seluruh rangkaian persiapan secara lebih efektif hingga hari presentasi. Selama proses tersebut, mereka rutin berdiskusi untuk mengevaluasi dan menyempurnakan konsep kampanye. Selain itu, tim secara konsisten mengikuti coaching bersama Pak Sani, dosen Public Speaking, untuk melatih teknik presentasi, memperbaiki cara penyampaian materi, dan meningkatkan kepercayaan diri sebelum tampil di hadapan juri.

Totalitas Konsep yang Mencuri Perhatian Juri

Di antara seluruh rangkaian lomba, momen presentasi menjadi pengalaman paling membekas bagi mereka. Tidak hanya menampilkan materi kampanye, tim ini juga tampil totalitas dengan konsep visual yang berbeda dari peserta lain.

Salah satu anggota bahkan rela merias temannya dengan efek luka dan darah untuk mendukung tema yang mereka angkat. Penampilan tersebut sukses menarik perhatian juri maupun peserta lain.

Dokumentasi Tim Lupa Password yang sukses mencuri perhatian Juri dan Peserta lainnya

“Kami sadar peserta lain tampil formal menggunakan almamater atau pakaian rapi, sedangkan kami datang dengan konsep yang cukup ekstrem. Waktu Joyce masuk ruangan dengan make up penuh luka dan darah, juri sampai kaget.Ternyata justru itu yang membuat juri dan peserta lain lebih mengingat penampilan kami” katanya.

Tidak hanya juri, beberapa mahasiswa dari universitas lain hingga dosen yang hadir juga memberikan apresiasi terhadap konsep mereka. Pengalaman tersebut menjadi semakin berkesan ketika panitia mengumumkan tim mereka sebagai pemenang.

Momen Kemenangan dan Pelajaran yang Didapat

“Kami benar-benar tidak menyangka bisa menang. Rasanya campur aduk antara senang, lega, dan bangga karena perjuangan selama proses lomba digital campaign ini akhirnya terbayarkan. Kami merasa sangat bangga karena dapat membawa nama kampus dan membahagiakan orang tua melalui pencapaian ini”.

Bagi mereka, pengalaman ini memberikan pelajaran penting bahwa mahasiswa harus memanfaatkan setiap kesempatan sebaik mungkin sejak awal masa perkuliahan. Menurut mereka, menjadi mahasiswa merupakan sebuah privilege yang tidak semua orang miliki. Karena itu, mahasiswa perlu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkembang dan mencoba berbagai hal positif. 

“Kami belajar kalau keberanian untuk mencoba itu penting. Walaupun masih semester satu dan belum punya banyak pengalaman, ternyata bukan berarti kita tidak mampu bersaing,” tutupnya.

Tips dan Trik Menurut Tim Lupa Password 

Selain membawa pulang kemenangan, tim Lupa Password juga membagikan beberapa hal yang mereka anggap penting bagi mahasiswa yang ingin mencoba mengikuti lomba. Menurut mereka, peserta perlu memahami tema dan rubrik penilaian sejak awal, melakukan riset yang cukup sebelum menyusun konsep, serta berani menawarkan ide yang berbeda dari peserta lain. Mereka juga menekankan pentingnya komunikasi dan pembagian tugas yang jelas agar setiap anggota dapat berkontribusi secara maksimal selama proses persiapan.

Ali Nabhan Jundulloh Yahya

[email protected]

Share this: