Mahasiswa Humas tentu tidak asing dengan sosok Mara dan Mari yang sering muncul dalam berbagai unggahan akun Instagram MaroonCnnect. Dengan ekspresi yang lucu dan desain yang khas, keduanya telah menjadi identitas visual yang melekat pada Hima Huma. Namun, di balik karakter tersebut terdapat cerita menarik mengenai proses penciptaan dan makna yang terkandung di dalamnya.
Mengapa Mara Mari Menjadi Identitas Hima Humas?
Karakter Mara dan Mari menjadi salah satu identitas yang melekat pada akun advokasi Hima Humas, MaroonConnect. Ekspresi lucu dan desainnya yang menarik membuat mahasiswa, khususnya mahasiswa Hubungan Masyarakat, Fikom Unpad, Universitas Padjadjaran, mudah mengenali karakter ini.
Sosok di Balik Mara Mari
Di balik kehadiran Mara Mari, terdapat sosok kreatif mahasiswi Hubungan Masyarakat angkatan 2024, bernama Dhavnie Nada Aliyah.
Dhavnie mengaku sudah menyukai dunia desain sejak lama. Ia juga memiliki ketertarikan khusus pada desain karakter dan merchandise lucu.
“Aku dari dulu selalu suka dan punya bakat di design. Salah satu jenis design yang aku suka itu bikin maskot atau karakter dan merch terutama yang lucu-lucu,” ujarnya saat diwawancarai.
Menurut Dhavnie, desain karakter memberinya ruang untuk bebas berkreasi tanpa batas. Ia dapat menuangkan imajinasi melalui bentuk, warna, dan ekspresi karakter yang ia ciptakan.
Mara dan Mari lahir ketika akun committe info Adikara bertransformasi menjadi akun advokasi Hima Humas. Pada saat itu, Dhavnie menjalankan peran sebagai penanggung jawab publisitas dalam kegiatan Maroon Action (MA).
Dalam proses rebranding tersebut, tim memberikan tugas kepada Dhavnie untuk merancang maskot baru. Dari proses itu, Dhavnie kemudian menciptakan karakter Mara Mari.
“Untuk maskotnya sendiri tim menyarankan aku membuat dua karakter cowok dan cewek. Aku juga bikin sekitar sembilan ekspresi untuk tiap karakter,” kata Dhavnie.
Nama Mara dan Mari memiliki makna khusus. Keduanya merupakan singkatan dari “Maroon Advokasi”.

Rakun yang Penuh Makna
Dhavnie memilih rakun sebagai karakter utama karena karakter tersebut selaras dengan identitas mahasiswa humas. Selain itu, ia ingin menghadirkan maskot yang berbeda dari organisasi lain.
“Aku lihat rakun jarang banget dipakai organisasi lain. Jadi itu bisa jadi poin unik untuk akun MaroonConnect,” jelasnya.
Menurut Dhavnie, rakun merepresentasikan kecerdasan, kemampuan beradaptasi, dan rasa ingin tahu yang tinggi. Karakteristik tersebut juga mencerminkan nilai yang dimiliki mahasiswa humas.
Dhavnie juga mempertimbangkan pemilihan warna dengan matang. ia memadukan warna maroon, krem, dan sentuhan kuning pada pita Mari untuk memperkuat identitas Humas.
Selain itu, ia melengkapi Mara dan Mari dengan jaket himpunan Humas. Detail tersebut membuat karakter terasa lebih dekat dengan mahasiswa.
Dalam dunia komunikasi visual, maskot memang sering digunakan untuk membangun identitas sebuah organisasi. Menurut jurnal Perancangan Identitas Visual Berupa Maskot serta Implementasinya sebagai Media Komunikasi dan Branding menjelaskan bahwa maskot merupakan media komunikasi yang efektif untuk mendukung branding.
Maskot memiliki peran untuk mempengaruhi konsumen dan mengingat sesuatu yang berhubungan pada suatu merek atau lembaga. Maskot juga mampu meningkatkan daya tarik visual sekaligus memperkuat kedekatan emosional dengan audiens.
Hal itu terlihat dari respons mahasiswa terhadap Mara dan Mari. Kehadiran karakter ini membuat konten advokasi terasa lebih menarik dan mudah diingat.
Harapan untuk Masa Depan Mara Mari
Di akhir wawancara, Dhavnie berharap Mara dan Mari dapat terus berkembang di masa depan. Ia ingin karakter tersebut tetap menjadi identitas khas advokasi Hima Humas.
“Semoga Mara Mari bisa terus berkembang dan lebih banyak orang mengenal prodi humas lewat Mara Mari,” tutupnya.
Naura Khalida Dzia Tanaya – [email protected]