Menjadi ketua himpunan bukan hanya tentang memimpin organisasi, tapi juga tentang proses yang membentuk pola pikir, cara memandang masalah, dan kemampuan memahami banyak orang dalam satu tujuan yang sama. Bagi Muhammad Faishal Akmal, cerita perjalanan ini membentuk dirinya menjadi lebih dewasa.
Awal Cerita Perjalanan Muhammad Faishal Akmal di Hima Humas
Faishal memulai langkah organisasinya dari rasa ingin menambah pengalaman di lingkungan kampus. Ia mengaku sebelumnya tidak terlalu banyak mengikuti kepanitiaan di Fakultas Ilmu Komunikasi. Karena itu, HIMA Humas menjadi tempat yang ia pilih untuk berkembang sekaligus memperluas relasi.
“Aku ingin menambah pengalaman organisasi kampus dan memperluas relasi di luar lingkup yang biasa aku jalani.” – ujarnya faishal
Perjalanan Faishal di himpunan dimulai saat bergabung dengan Departemen Hubungan Eksternal. Di sana, ia bertanggung jawab dalam program kerja launching kabinet dan membantu berbagai program kerja lainnya.
Namun, perjalanannya tidak berhenti di satu bidang saja. Faishal juga aktif mengikuti banyak kepanitiaan di bidang internal, seperti Mawar, Maroon Homecoming, hingga Prolympiad. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami dinamika organisasi dan cara membangun hubungan antaranggota himpunan.
Salah satu titik penting dalam perjalanannya terjadi ketika ia bergabung sebagai konseptor PRO. Awalnya, ia ingin mengasah kemampuan public relations sekaligus memahami lebih dalam tentang HIMA Humas dan program studi yang dijalani.
“Setelah masuk konseptor, wawasan aku tentang prodi dan himpunan jadi lebih luas. Dari situ mulai muncul keinginan untuk jadi kahim.” – ujarnya
Pengalaman yang Membentuk Jiwa Kepemimpinan Faishal
Perjalanan kepemimpinan Faishal bermula saat ia dipercaya menjabat sebagai Ketua OSIS di SMAN 2 Garut. Pengalaman tersebut memberinya gambaran nyata tentang tanggung jawab seorang pemimpin, mulai dari mengambil keputusan hingga mengoordinasikan banyak orang untuk mencapai tujuan bersama. Dari sana, ia menyadari bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang jabatan, tetapi juga tentang kemampuan untuk mengarahkan, merangkul, dan menjadi teladan bagi orang lain.
Ketertarikan Faishal terhadap dunia kepemimpinan semakin tumbuh setelah mengikuti LDKO 2. Berbagai materi dan pengalaman yang ia peroleh selama program tersebut memperluas wawasannya tentang kepemimpinan dan organisasi. Momen itu menjadi salah satu titik penting yang semakin menguatkan keyakinannya untuk melangkah dan berkontribusi lebih besar sebagai pemimpin himpunan. Setelah itu, Faishal mulai menyusun grand design bersama beberapa kepala departemen sebagai persiapan untuk maju menjadi calon kahim pada Pemray MUBES 2025. Hingga akhirnya, ia resmi terpilih sebagai Kahim Kabinet Trikatha.
Faishal merasa bahwa sebagai seorang pemimpin, ia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kondisi internal tetap harmonis dan membangun hubungan baik dengan pihak eksternal. Ia ingin membuat sistem kerja di HIMA Humas menjadi lebih efektif.
Menurut Faishal, tantangan terbesar dalam organisasi adalah menyatukan visi dari banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda. Faishal percaya seorang pemimpin harus mampu mendengarkan dan menyesuaikan pendekatan kepada setiap anggota.
Faishal mengatakan bahwa menjaga kekompakan itu harus lewat komunikasi dan treatment yang berbeda ke tiap orang.

Perjalanan Faishal dari LDKO hingga Menjadi Ketua HIMA Humas
Dalam menjalani perannya sebagai kahim, Faishal juga menghadapi berbagai tekanan dan kesulitan, tetapi ia merasa selalu mendapat dukungan dari teman-teman, staff, pembina, hingga senior yang menjadi tempat berbagi cerita dan mencari solusi.
Bagi Faishal, komunikasi menjadi kunci penting dalam menghadapi masalah organisasi. Faishal mengatakan bahwa kalau lagi sulit, ia selalu ngobrol sama orang-orang terdekat buat cari jalan keluarnya bareng-bareng.
Tidak hanya membentuk kemampuan memimpin, pengalaman menjadi kahim juga mengubah cara Faishal memandang suatu permasalahan. Faishal belajar melihat sesuatu dari berbagai sisi atau yang ia sebut sebagai helicopter view.
Cerita Faishal Dalam Menjalankan Peran sebagai Pemimpin Organisasi
Faishal merasa kemampuan mengendalikan emosi dan bersikap netral dalam mengambil keputusan juga semakin berkembang sejak menjadi pemimpin.
Menurut Faishal, emotional intelligence menjadi salah satu kualitas penting yang wajib dimiliki seorang leader. Faishal mengatakan bahwa pemimpin tidak hanya dituntut kuat menghadapi tekanan, tetapi juga harus mampu menempatkan diri dalam berbagai situasi.
Faishal mengatakan bahwa kadang leader harus jadi teman, jadi kakak, atau jadi penyemangat buat anggotanya.
Di tengah kesibukan organisasi, Faishal tetap berusaha membagi waktu dengan akademik. Ia biasanya memprioritaskan kuliah di pagi hingga siang hari, kemudian melanjutkan tugas organisasi pada malam hari.
Jika tugas kuliah masih banyak, Faishal memanfaatkan akhir pekan untuk menyelesaikannya.
Komunikasi dan Dukungan Menjadi Kunci Perjalanan Menghadapi Tantangan
Meski pernah merasa burnout, Faishal memiliki cara sederhana untuk mengembalikan energinya, seperti berjalan-jalan sendiri, makan, berbincang dengan teman, hingga pulang ke Garut untuk beristirahat dan bertemu keluarga.
Menutup wawancara, Faishal menyampaikan harapannya agar HIMA Humas Kabinet Trikatha dapat berjalan sesuai visi dan misi yang telah dirancang sejak awal serta meninggalkan kesan baik bagi semua orang di dalamnya.
Faishal juga berpesan kepada mahasiswa untuk tidak takut mencoba organisasi selama lingkungan tersebut jelas dan sehat untuk berkembang.
Faishal mengatakan bahwa organisasi itu bisa kasih banyak insight dan ngelatih soft skill, apalagi buat anak komunikasi yang nantinya bakal kepake di dunia kerja.
Bagi Faishal, seorang pemimpin yang baik bukanlah orang yang paling bersinar, tetapi seseorang yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya ikut bersinar bersama.
-Khansa Nabilah-