Tiga mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Fariza Satrya, Raceka Aulia, dan Shofyan Tsauri berhasil meraih juara pertama dalam OlymPRDay di The 12th Padjadjaran Public Relations Fair. Acara ini dilaksanakan di Universitas Padjadjaran pada tanggal 20-22 Mei 2024, mengusung tema, ”Preventing Plagiarism by Promoting Digital Ethics to University Community.”
Padjadjaran Public Relations Fair (PPRF) merupakan kompetisi mahasiswa komunikasi tingkat internasional yang diselenggarakan oleh Hima Humas Fikom Unpad. Kompetisi ini telah dilaksanakan selama 12 tahun berturut-turut. PPRF memiliki dua cabang kompetisi, yaitu OlymPRDay dan Public Relations Student Forum (PRSF). Tahun ini, peserta OlymPRDay dituntut untuk mengemukakann gagasannya melalui Public Relations Communication Strategy Campaign dalam mencegah plagiarisme dengan mengedepankan etika digital kepada mahasiswa.


Menurut Raceka, motivasi mereka mulai mengikuti lomba adalah karena banyak teman-temannya yang lebih dulu berprestasi, hal inilah yang membuat Raceka merasa tertantang. Motivasi lain mengikuti OlymPRDay tahun 2024 adalah, karena OlymPRDay tahun 2023 dimenangkan oleh tim dari universitas lain bukan dari Universitas Padjadjaran.
Shofyan menambahkan bahwa perjalanan Tim Abul untuk menempati posisi pertama tidaklah mudah. OlymPRDay bukan lompa pertama yang diikuti oleh Tim Abul. Sebelumnya mereka pernah mengikuti lomba PR Campaign Pekom UI, tetapi belum meraih juara.
Salah satu kendala utama yang mereka alami selama mengikuti OlymPRDay adalah pengumpulan data. Pada OlymPRDay, mereka diminta memposisikan diri sebagai PR Agency yang bekerja sesuai universitas asal peserta. Oleh karena itu, mereka harus mencari data primer sendiri, seperti melakukan wawancara dan menggunakan Google Forms. Selain itu, kendala lainnya adalah keterbatasan waktu, mereka harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan.
Fariza juga memberikan beberapa tips kepada teman-teman Humas Fikom Unpad yang akan mengikuti lomba yaitu “Jangan take anything for granted. Selama end-to-end process-nya, nikmati saja setiap fase. Capek, ketawain. Pusing, ketawain. Bingung, ketawain. Jangan membentuk kelompok yang pintar, tapi bentuklah kelompok yang kalau ngobrol nyambung,” ujarnya.
Perjuangan dan keberhasilan Tim Abul dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi. Semoga cerita mereka dapat memotivasi lebih banyak mahasiswa untuk bisa berkompetisi di lomba komunikasi tingkat nasional maupun internasional.


Penulis: Faris Wafiq Hawari

Share this: