Pernahkah kamu bertanya, bagaimana perasaan orang yang setiap hari menjaga citra perusahaan di mata publik, tapi lupa menjaga kondisi dirinya sendiri?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi seorang praktisi Public Relations, pertanyaan itu terasa seperti cermin yang selama ini mereka hindari. Profesi PR dikenal sebagai sosok komunikator. Mereka pintar berbicara, mahir menyusun narasi, dan mengetahui cara menjaga citra. Namun di balik itu, ada paradoks yang jarang dibicarakan: mereka yang paling ahli berkomunikasi justru paling sulit berkomunikasi dengan dirinya sendiri.
Bayangkan seorang praktisi di sebuah perusahaan besar. Senin pagi, ia sudah harus menyiapkan siaran pers untuk merespons isu yang tiba-tiba viral sejak dini hari. Siang hari, rapat dengan manajemen untuk membahas strategi komunikasi krisis. Sore, ia masih memantau media sosial sambil menyusun laporan. Malam hari, notifikasi masih berbunyi. Besok pagi, siklus yang sama berulang. Di tengah semua itu, tidak ada ruang untuk bertanya pada diri sendiri: “Apakah aku baik-baik saja?”
Yang lebih berat, ia tidak bisa menunjukkan kelelahan itu kepada siapapun. Dalam profesi ini, ketenangan adalah bagian dari profesionalisme. Panik adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli. Maka ia terus berjalan, menyusun kalimat demi kalimat untuk publik, sementara kalimat untuk dirinya sendiri tak pernah sempat ditulis.
Kondisi ini bukan pengecualian, justru ini keseharian sebagai praktisi PR. Pekerjaan PR menuntut apa yang oleh sosiolog Arlie Hochschild disebut sebagai emotional labor, kemampuan mengelola emosi diri sendiri sebagai bagian dari tuntutan pekerjaan. Seorang praktisi PR harus tetap tenang saat krisis meledak, harus tetap ramah saat menghadapi pertanyaan yang menyudutkan dari media, dan harus tetap optimis saat pesan yang mereka sampaikan tidak diterima oleh publik.
Dalam kajian komunikasi organisasi, praktisi PR dikenal sebagai boundary spanner, mereka berdiri di antara organisasi dan publiknya. Artinya, tekanan datang dari dua arah sekaligus: dari dalam organisasi yang menuntut untuk menjaga citra, dan dari publik eksternal yang menuntut transparansi dan kejujuran. Praktisi PR menyerap tekanan dari kedua sisi itu setiap harinya, ibarat dinding yang dituntut kuat menahan beban dari arah yang berlawanan secara bersamaan.
Ironisnya, industri komunikasi sendiri jarang membuka ruang untuk membicarakan hal ini. Kesehatan mental praktisi PR bukan topik yang sering muncul dalam seminar, pelatihan, atau diskusi profesional. Yang lebih banyak dibahas adalah bagaimana mengelola krisis klien, bukan bagaimana mengelola krisis dalam diri sendiri. Padahal keduanya sama-sama nyata, dan sama-sama membutuhkan perhatian.
Seorang PR selalu menerapkan model komunikasi dua arah. Mereka tahu cara menyampaikan pesan yang tepat kepada ribuan orang, tapi tidak tahu bagaimana cara memulai kalimat: “Aku butuh bantuan.” Bukan karena mereka tidak membutuhkannya, tapi karena selama ini tidak ada ruang untuk mengatakannya, bahkan kepada diri sendiri.
Sebelum ada komunikasi antarpribadi, sebelum ada komunikasi massa, sebelum ada strategi media, ada komunikasi yang terjadi di dalam diri sendiri—komunikasi intrapersonal. Proses berpikir, merenungkan perasaan, dan memahami kondisi diri adalah fondasi dari semua proses komunikasi. Ketika fondasi itu retak, semua yang dibangun di atasnya pun ikut goyah.
Praktisi PR terbiasa melakukan stakeholder mapping, mengidentifikasi siapa yang berkepentingan, apa kebutuhannya, dan bagaimana cara mendekatinya. Bagaimana jika pendekatan yang sama diterapkan ke dalam diri sendiri: siapa kamu hari ini, apa yang kamu butuhkan, dan apa yang belum sempat kamu ungkapkan?
Psikolog Sidney Jourard menyebut bahwa kesehatan mental seseorang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya untuk melakukan self-disclosure, mengungkapkan secara jujur kepada diri sendiri. Sebagai profesi yang terlatih mengontrol narasi, ini mungkin terasa asing. Namun, justru di sinilah tantangannya: mengungkapkan sesuatu yang tidak berjalan dengan baik pada diri sendiri adalah langkah yang butuh keberanian lebih besar daripada menghadapi konferensi pers manapun.
Mindset yang perlu dibangun adalah: komunikasi yang baik bukan dimulai dari pesan yang sempurna untuk publik, tapi dari kejujuran yang tulus terhadap diri sendiri. Seorang PR yang tidak mengenali kondisi dirinya, lambat laun tidak akan mampu membangun komunikasi yang autentik dengan siapapun. Kelelahan itu nyata. Tekanan itu nyata. Dan mengakuinya bukan kelemahan, justru langkah pertama dari strategi komunikasi yang paling penting yaitu strategi untuk menjaga diri sendiri.
Profesi PR mengajarkan bahwa kepercayaan publik dibangun dari konsistensi dan kejujuran. Sudah saatnya prinsip yang sama berlaku ke dalam: percaya pada diri sendiri, jujur tentang kondisi sendiri, dan berani memulai percakapan yang selama ini tertunda. Karena pada akhirnya, praktisi PR yang benar-benar sehat bukan hanya yang mampu menjaga reputasi organisasi, tapi juga yang cukup berani untuk menjaga dirinya sendiri.
Penulis: Nurfitrianingsih Isnawirama
#MaroonSubmission26