Nyaris Menyerah Karena Tertinggal Kereta, Ini Rahasia Arly Sabilla Raih Beasiswa KSE

Arly Sabilla, seorang mahasiswa Hubungan Masyarakat angkatan 2022 kini berhasil menjadi awardee Beasiswa Karya Salemba Empat (KSE) 2025/2026. Keputusannya mendaftar beasiswa Karya Salemba Empat (KSE) bukan sekadar soal uang, tetapi untuk berdiri di atas kaki sendiri.

“Aku pengen biaya pemenuhan kebutuhan harianku pure hasil kerja kerasku. Biar ga lagi minta sama orang tua untuk kebutuhan-kebutuhan kecil, ini langkah kecil untuk aku bertanggung jawab sama diri sendiri,” ujarnya.

Seleksi dan Satu Menit yang Mengubah Segalanya

Proses seleksi KSE terdiri dari pemberkasan dan dua tahap wawancara. Bagi Arly, tahapan paling emosional adalah saat menyusun esai yang berisi sembilan pertanyaan reflektif. Di fase inilah ia dipaksa untuk berkaca hampir setengah usia hidupnya.

Lalu datanglah hari di mana seleksi wawancara tahap kedua digelar secara offline. Namun, ketika tiba di stasiun, Arly hanya memiliki waktu satu menit sebelum kereta berangkat. Tak cukup membuatnya masuk ke dalam rangkaian kereta. Ia tertinggal. Momen yang hampir membuatnya menyerah, justru menjadi titik balik yang mengantarkan impiannya.

Dukungan dan arahan dari sang ayah membuatnya mencari jalan lain untuk sampai di Jatinangor dan melaksanakan proses wawancara dengan tepat waktu. Uniknya, kejujuran Arly dalam menceritakan kejadian ini justru menjadi nilai lebih di mata pewawancara. Kejadian nyata itu mencerminkan kepribadian Arly yang rasional, tenang di situasi genting, dan pantang menyerah.

Menjadi awardee KSE membuka babak baru bagi Arly. Ia aktif di paguyuban KSE Unpad, mengikuti pelatihan keuangan dan karier profesional, hingga memimpin kegiatan donor darah sebagai project officer dengan lebih dari 180 pendaftar. Pencapaian ini mengantarkannya menjadi best staff of the month.

Kebersamaan Arly Sabilla sebagai Project Officer bersama tim donor darah KSE Unpad.

Tips Lolos Beasiswa KSE dari Arly Sabilla

Arly meninggalkan sebuah pesan berharga bagi mahasiswa yang kerap dirundung rasa takut gagal sebelum mencoba. Menurutnya, rasa takut adalah bentuk reflektif penilaian kita terhadap kemampuan diri. Cara mengatasinya adalah dengan meningkatkan kemampuan dan menjadikannya bahan bakar keberanian.

Dari segi persiapan, Arly menekankan beberapa hal penting. Pertama, penuhi semua persyaratan tanpa terkecuali. Prestasi organisasi dan pengalaman kepanitiaan menjadi bukti bahwa kamu aktif dan mampu bekerja dalam tim. Kedua, tulis esai dengan jujur. Kenali apa yang sudah, sedang, dan akan kamu lakukan karena kejujuran inilah yang membuat esai terasa autentik dan berkesan. Ketiga, pastikan apa yang diucapkan saat wawancara selaras dengan berkas yang disubmit. Konsistensi adalah nilai plus bagi pewawancara.

Jika memiliki pengalaman unik yang bervalue, Arly menyarankan untuk tidak ragu menceritakannya lengkap dengan pelajaran yang bisa diambil. Terakhir, jangan takut untuk bertanya kepada awardee sebelumnya karena pengalaman mereka bisa sangat membantu proses persiapan.

“Jangan sampai kegagalan malah mendefinisikan kita. Intinya coba aja dulu, sebuah hal menjadi suatu pengalaman karena sudah dicoba. Kalau udah nyoba kan jadi punya spoiler, ga terlalu clueless.”

Sebagai penutup, Arly kemudian membagikan prinsip yang selalu ia pegang teguh:

“Apabila aku sudah merasa yakin dan bertekad tanpa keraguan sedikitpun atas suatu hal, berarti itu tanda dari Yang Maha Esa bahwa aku pantas dan aku bisa, hal tersebut akan sudah pasti menjadi milikku. Jadi kalau kalian yakin, itu bukan bentuk over PD, melainkan tanda bahwa kamu memang siap,”

Latisya Arthynya Triawan

[email protected]

Share this: